Paparan abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau baru-baru ini telah memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat dan wisatawan yang beraktivitas di pesisir Pesawaran. Untuk mengatasi masalah ini, Ikatan Jurnalis Pemprov (IJP) Lampung mengambil inisiatif dengan membagikan 1.000 masker gratis. Kegiatan ini berlangsung di kawasan wisata bahari seperti Ketapang, Pulau Legundi, dan Pulau Pahawang, yang terkena dampak langsung dari abu vulkanik yang terbawa angin.
Aksi Sosial IJP Lampung: Menyebarkan Kesadaran dan Perlindungan
Pada Selasa, 8 September 2026, IJP Lampung melaksanakan program pembagian masker gratis secara serentak di beberapa titik strategis. Kegiatan ini dilakukan di Dermaga Ketapang, Desa Batu Menyan, Kecamatan Teluk Pandan, Pesawaran, serta di lampu merah Pemprov Lampung, Teluk Betung, Bandar Lampung.
Ketua IJP Lampung, Abung Mamasa, melalui Wakil Ketua Koordinator Bidang Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Wahyudin, menjelaskan bahwa pembagian masker ini merupakan bentuk kepedulian pihaknya terhadap masyarakat lokal dan para wisatawan. Ia menekankan pentingnya perlindungan bagi individu yang beraktivitas di luar ruangan, terutama di tengah situasi yang kurang ideal akibat paparan abu vulkanik.
Metode Distribusi Masker
Wahyudin menyampaikan bahwa masker dibagikan secara door to door, menyasar masyarakat dan wisatawan di Ketapang, Pulau Legundi, dan Pulau Pahawang. “Kami bekerja sama dengan Danposbinpotmar Ketapang, anggota Lanal Lampung, serta aparatur pemerintah dan Kepala Desa Batu Menyan,” ujarnya saat melakukan pembagian masker di Pulau Legundi.
- 1. Pembagian masker dilakukan secara langsung kepada warga.
- 2. Target distribusi mencakup area wisata yang berpotensi terkena dampak abu vulkanik.
- 3. Kerja sama dengan berbagai instansi untuk memperluas jangkauan.
- 4. Operasional dilaksanakan di beberapa lokasi strategis.
- 5. Pemantauan kondisi udara dilakukan untuk menentukan langkah selanjutnya.
Pengaruh Abu Vulkanik terhadap Kualitas Udara
Dalam beberapa hari terakhir, kawasan pesisir Pesawaran mengalami paparan abu vulkanik yang cukup berat. Menurut Wahyudin, abu tersebut terbawa oleh angin, sehingga membuat kualitas udara di wilayah tersebut menjadi keruh. Meskipun demikian, aktivitas masyarakat dan wisatawan di area wisata bahari tetap berlangsung, meski dalam kondisi yang tidak ideal.
Wahyudin menambahkan, “Kami berupaya menurunkan risiko paparan abu vulkanik, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar rumah.” Masker yang dibagikan, walaupun terlihat sederhana, berfungsi sebagai pelindung yang sangat penting di tengah kondisi udara yang belum sepenuhnya bersih dari abu dan debu.
Harapan untuk Masyarakat
Wahyudin berharap agar masyarakat tetap menggunakan masker meskipun paparan abu vulkanik mulai berkurang. “Selain untuk melindungi dari abu, masker ini juga berguna untuk mengurangi paparan debu dari proyek perbaikan jalan yang sedang berlangsung,” ujarnya.
Testimoni Warga Terkait Paparan Abu Vulkanik
Salah satu warga Pulau Legundi, Aan Suryani, mengungkapkan pengalamannya terkait paparan abu vulkanik. Ia menjelaskan bahwa pada 4 September 2026, sekitar pukul 15.30 WIB, ia melihat kabut di belakang Pulau Legundi yang awalnya dianggap sebagai tanda hujan.
Namun, saat kondisi semakin tidak nyaman dengan mata yang perih, warga akhirnya menyadari bahwa kabut tersebut adalah abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau. “Saat itu, anak-anak masih berada di sekolah. Sebagai tenaga pendidik, saya segera memutuskan untuk mempulangkan mereka,” kata Aan.
Dampak Terus Berlanjut
Menurut Aan, paparan abu vulkanik masih terasa hingga beberapa hari setelah kejadian tersebut. Abu yang terbawa angin bahkan terlihat lebih tebal dibandingkan saat aktivitas erupsi terjadi. “Abu vulkanik hingga kini masih bertebaran di wilayah kami,” jelasnya.
Imbauan untuk Tetap Tenang dan Menggunakan Masker
Serma Fery Yansyah, Danposbinpotmar Ketapang Lanal Lampung, melalui Kopka Supriyadi, mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan tetap tenang. “Kami menghimbau agar masyarakat menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah dan mengikuti informasi serta arahan resmi dari pemerintah, termasuk dari BMKG dan instansi terkait,” ujarnya.
Apresiasi dari Masyarakat
Syahruji, mewakili warga Desa Batu Menyan, memberikan apresiasi terhadap tindakan IJP Lampung yang langsung memberikan masker kepada masyarakat dan wisatawan. “Terima kasih kepada IJP Lampung yang telah membagikan masker gratis kepada kami semua,” ujarnya.
Dia juga menambahkan bahwa sebanyak 1.000 masker dibagikan secara door to door, termasuk untuk warga di kawasan Ketapang, Desa Batu Menyan, serta warga Pulau Legundi dan Pulau Pahawang yang tiba di Dermaga Ketapang. “Kami sebelumnya telah diimbau untuk membatasi aktivitas di luar rumah selama paparan abu vulkanik terjadi,” ungkap Syahruji.
Pentingnya Perlindungan bagi Anak-Anak
Syahruji juga menekankan pentingnya melindungi anak-anak dari dampak abu vulkanik. “Anak-anak kami dibatasi agar tidak bermain di luar rumah karena debu masih bertebaran di wilayah kami dan sekitarnya. Kami merasa bersyukur dengan adanya pembagian masker ini,” tambahnya.
Ia berharap bantuan tersebut dapat membantu masyarakat dan wisatawan dalam mengurangi risiko menghirup debu dan abu vulkanik yang masih terbawa angin. “Terima kasih kepada IJP Lampung yang telah berpartisipasi dalam membantu masyarakat dan wisatawan di kawasan wisata bahari Ketapang, Pulau Legundi, dan Pulau Pahawang. Masker ini juga akan kami bagikan saat acara Maulid Nabi Muhammad SAW,” imbuhnya.
Pembagian Masker yang Luas
Inisiatif pembagian masker oleh IJP Lampung tidak hanya terbatas pada Bandar Lampung, tetapi juga menyasar masyarakat di wilayah pesisir Pesawaran. Sebelumnya, kegiatan serupa telah dilakukan pada 7 September 2026 di kawasan Tugu Adipura, Bandar Lampung, dan dilanjutkan secara bersamaan pada 8 September 2026 di lampu merah Pemprov Lampung serta pesisir Pesawaran.
Dengan adanya upaya ini, diharapkan masyarakat dapat lebih terlindungi dari dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, sehingga aktivitas sehari-hari mereka tidak terganggu. Ini adalah contoh nyata dari kolaborasi antara jurnalis dan masyarakat untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman dan sehat di tengah tantangan yang ada.
