
TANJUNG REDEB — Situasi penerbangan di Bandara Kalimarau mengalami gangguan signifikan akibat kabut asap tebal yang melanda Kabupaten Berau pada hari Jumat, 18 September 2026. Jarak pandang yang menurun hingga 1.500 meter memaksa beberapa pesawat untuk berputar di udara sebelum akhirnya membatalkan rencana pendaratan mereka.
Pengaruh Kabut Asap terhadap Aktivitas Penerbangan
Wakil Bupati Berau, Gamalis, yang memantau langsung situasi di Bandara Kalimarau, mengonfirmasi bahwa salah satu penerbangan dari Jakarta tidak dapat mendarat dan harus kembali ke Balikpapan. Kejadian ini menunjukkan dampak serius dari kabut asap yang telah mengganggu operasional penerbangan.
“Pesawat sudah berusaha untuk melakukan holding berulang kali, namun akhirnya harus kembali ke titik asalnya,” jelas Gamalis saat memberikan keterangan mengenai kondisi terbaru di bandara.
Perubahan Jarak Pandang yang Fluktuatif
Gamalis menambahkan bahwa jarak pandang di area bandara terus mengalami perubahan yang tidak stabil. “Saat ini, jarak pandang terakhir tercatat sekitar 1.500 meter,” ungkapnya, menunjukkan betapa kritisnya situasi yang dihadapi oleh pihak bandara dan para penumpang.
Pembatalan Penerbangan Sejak Kamis
Kepala Bandara Kalimarau, Patah Atabri, menjelaskan bahwa masalah kabut asap ini telah menyebabkan pembatalan penerbangan secara massal sejak Kamis, 17 September 2026, pada pukul 11.00 Wita. Saat itu, jarak pandang merosot drastis, mengakibatkan seluruh penerbangan terpaksa dibatalkan.
“Jarak pandang yang awalnya 3.500 meter, tiba-tiba anjlok menjadi 1.500 meter. Ini menyebabkan semua penerbangan pada hari sebelumnya dibatalkan,” jelas Patah, menegaskan dampak serius yang ditimbulkan oleh kondisi cuaca ini.
Penerbangan yang Terdampak
Sejumlah maskapai penerbangan yang mengalami dampak dari situasi ini antara lain:
- Wings Air
- Super Air Jet
- Sriwijaya Air
Pada hari Jumat, hanya satu penerbangan Wings Air rute Berau-Samarinda yang berhasil lepas landas pada pukul 12.20 Wita, saat jarak pandang sempat meningkat menjadi 2.000 meter. Namun, pesawat tersebut belum dapat kembali ke Berau karena kondisi jarak pandang yang kembali memburuk.
Monitoring dan Tindakan dari Otoritas Bandara
Hingga Jumat sore, pihak otoritas di Bandara Kalimarau tetap dalam posisi siaga untuk memantau perkembangan kondisi cuaca. “Saat ini, semua pihak masih menunggu dan berharap adanya perbaikan dalam jarak pandang,” pungkas Patah, menandakan keseriusan dan perhatian yang diberikan terhadap situasi ini.
Persiapan Menghadapi Gangguan Lanjutan
Dalam menghadapi situasi darurat seperti ini, pihak bandara dan maskapai penerbangan perlu melakukan beberapa langkah preventif, antara lain:
- Memperbarui informasi kepada penumpang secara real-time.
- Menyiapkan alternatif penerbangan bagi penumpang yang terkena dampak.
- Meningkatkan koordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan cepat.
- Melakukan evaluasi dan persiapan infrastruktur agar dapat segera beroperasi kembali.
- Menjaga komunikasi yang baik dengan pihak berwenang mengenai kondisi cuaca.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Bandara Kalimarau dapat segera kembali beroperasi normal dan melayani penumpang dengan baik, meskipun tantangan yang dihadapi akibat kabut asap sangat signifikan. Situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana alam yang dapat memengaruhi transportasi udara.




